jump to navigation

Saatnya Hedging BBM? 2 November 2009

Posted by sr33ircham in Fiksi(kah?).
add a comment

Makmun

Peneliti Utama Badan Kebijakan Fiskal

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Anggito Abimanyu, dalam artikelnya berjudul “Mengantisipasi Ketidakpastian Ekonomi 2010″ yang dimuat di harian Republika pada 13 Oktober yang lalu, mengisyaratkan bahwa kemungkinan pemerintah untuk mengaplikasikan lindung nilai (hedging) pada risiko keuangan dan harga komoditas, terutama minyak, dan asuransi terjadinya kerusakan dari bencana alam, serta upaya meningkatkan kewaspadaan, diharapkan dapat mengurangi dampak negatif tersebut. Isyarat Kepala BKF di atas tentunya berkaitan dengan berbagai kemungkinan atau ketidakpastian yang akan terjadi pada 2010. Sebagaimana diketahui, setidaknya terdapat tiga hal yang menjadi faktor penyebab ketidakpastian pada tahun depan.

Pertama, ketidakpastian makroekonomi. Hal ini berkaitan dengan kondisi global, terutama AS, sebagai pilar ekonomi dunia saat ini. Dalam beberapa bulan terakhir, defisit anggaran di AS melonjak secara tajam. Berdasarkan Monthly Treasury Statement yang dirilis Departemen Keuangan AS, hingga 31 Agustus 2009 realisasi defisit anggaran AS mencapai US$ 1.378 miliar. Diperkirakan, sampai akhir tahun anggaran, realisasi defisit AS diperkirakan akan membengkak mencapai US$ 1,4 triliun.

Kedua, sulitnya memprediksi harga minyak. Sebagaimana diakui oleh pemerintah via Menteri Keuangan, harga minyak adalah salah satu indikator yang paling sulit diprediksi, mengingat jejak historisnya selama tiga tahun terakhir. Prediksi rentang harga minyak dunia belakangan ini sangat lebar, yaitu US$ 45 sampai US$ 120 per barel sampai 2010. Jika harga minyak naik di pasar internasional, penerimaan negara dari minyak bumi juga akan meningkat pula. Namun, di sisi pengeluaran, subsidi minyak juga akan membengkak (karena untuk konsumsi dalam negeri digunakan minyak impor). Sebaliknya, jika harga minyak turun, penerimaan negara juga akan turun, dan subsidi juga berkurang.

Menurut perhitungan Oliver Jacob, Managing Director Petromatrix, sebuah institusi periset minyak di Amerika Serikat, saat ini harga minyak sedang diuji ke level harga atas (resistance) US$ 75 per barel. Menurut dia, jika harga minyak berhasil menembus level tersebut, harga minyak mentah akan dengan gampang menembus level US$ 100 per barel. Faktanya menunjukkan bahwa harga minyak sudah berhasil menembus level resistance tersebut. Bloomberg mencatat, hingga Rabu 19 Oktober, harga minyak mentah terbaik jenis WTI di NYMEX untuk pengiriman Desember sudah menembus level US$ 77,2 per barel. Ini artinya, harga minyak dunia pada 2010 berpotensi menembus US$ 100 per barel. Apabila proyeksi harga minyak dunia menjadi kenyataan, APBN akan semakin terimpit, karena subsidi bisa melonjak tajam. Kondisi ini tentunya akan memaksa pemerintah untuk mencari alternatif solusi. Adapun pilihan menaikkan BBM diharapkan merupakan pilihan terakhir.

Ketiga, dampak perubahan iklim dan bencana alam. Sejak memasuki abad ke-21, bencana alam berupa banjir, tanah longsor, dan gempa tidak henti-hentinya melanda bumi Indonesia. Dampaknya, tidak hanya merenggut ribuan jiwa dan memusnahkan berbagai harta benda yang dimiliki, tetapi juga menghilangkan potensi ekonomi yang ada. Gempa telah meningkatkan angka kemiskinan dan tingkat pengangguran secara signifikan.

Penerapan

Salah satu solusi yang ditawarkan oleh Kepala BKF untuk melakukan hedging minyak mentah sudah sangat tepat, namun terdapat beberapa hal yang harus dipikirkan pemerintah. Pertama, pada pilihan, yakni apakah pemerintah yang akan melakukan hedging atau PT Pertamina. Pilihan ini tentunya akan berkaitan dengan obyek yang hendak di-hedge, apakah harga minyak ataukah subsidi minyak. Apabila yang akan di-hegde adalah harga minyak, akan tepat apabila yang melakukan PT Pertamina. Namun, apabila yang akan di-hedge adalah plafon subsidi minyak, akan lebih tepat pemerintah yang melakukan.

Kedua, masalah mekanisme pelaksanaan hedging. Perlu diketahui bahwa ada beberapa kelemahan pemerintah dalam menerapkan mekanisme hedging. Untuk menerapkan hedging, dibutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan memprediksi harga dengan baik. Apabila tidak tersedia sumber daya yang memadai, dalam pelaksanaannya hedging akan cenderung hanya akan seperti gambling saja. Opsi hedging berpotensi menguntungkan, namun sekaligus merugikan. Untuk itu, dalam melakukan hedging itu dibutuhkan analisis yang ketat.

Dalam konteks di atas, pemerintah perlu menyiapkan suatu kajian yang komprehensif berkenaan dengan peraturan pendukung, sehingga dalam pelaksanaannya tidak akan terkendala oleh mekanisme anggaran dan pertanggungjawaban atas penggunaan anggaran. Jangan sampai nantinya ada kesan bahwa, apabila ternyata dalam pelaksanaannya pemerintah merugi akibat meng-hedge minyak, hal itu dianggap merugikan negara. Untuk itu, dalam penerapannya pun harus mendapat dukungan sepenuhnya dari semua stake holder, seperti DPR, BPK, dan KPK, agar nantinya tidak terjadi tudingan merugikan negara, sekiranya pemerintah salah dalam melakukan analisis harga minyak.

Upaya menerapkan instrumen hedging harus prudent, karena instrumen dapat menguntungkan atau sebaliknya merugikan negara. Banyak manfaat yang dapat diperoleh dari instrumen ini, namun di sisi lain juga sangat berisiko. Untuk itu, diperlukan aturan main dalam hal transaksi derivatif. Perlu jelas dan detail, agar nantinya tidak terjadi kesalahpahaman di kemudian hari. Perlu disadari bahwa hedging tidak gratis. Hedging tidak jauh berbeda dengan berasuransi. Pemerintah membayar asuransi untuk menjaga agar ada kepastian atas harga minyak. Biaya hedging ini harus dipahami oleh para stake holder agar program hedging ini dapat berjalan dengan baik.

Pemerintah dapat belajar dari kasus hedging harga minyak di Ekuador yang berakhir dengan perseteruan politik dan berakhir di pengadilan. Kasus Metallgesellschaft (MGRM) harus berakhir dengan melikuidasi posisi hedging di bursa futures di NYMEX, hanya karena petinggi MGRM tidak mengetahui proses, mekanisme, dan hakikat hedging dengan penggunaan instrumen derivatif. Penulis berharap cerita buram ini tidak menyurutkan niat pemerintah untuk menerapkan instrumen hedging, melainkan menjadi pembelajaran, sehingga pemerintah dapat menyiapkan aturan main yang jelas dan mendapatkan dukungan dari semua stake holder. *

Koran Tempo | 22 Oktober 2009

Dana NGO, Pedang Bermata Dua 29 Oktober 2009

Posted by sr33ircham in Fiksi(kah?).
add a comment

MENJADI benar-benar mandiri itu memang sulit. Apalagi apabila tuntutan tersebut ditujukan kepada LSM, yang dalam orientasi kerjanya sangat menabukan keuntungan. Sulit dipahami gerak sebuah organisasi non profit bisa bertahan di tengah gempuran kapitalisme saat ini. Namun apa mau dikata, itulah perjalanan organisasi non pemerintah di negeri ini. Bahkan, ironisnya, menyandang kata “swadaya” pun dianggap terlalu berlebihan, lantaran sama sekali tidak terlihat unsur swadaya di sana.

Bila demikian keadaannya, dari manakah sebuah organisasi nonpemerintah mendapatkan pendanaan? Dalam akta pendirian sebuah organisasi bersifat non profit, sumber-sumber dana biasanya tercantum berasal dari tiga komponen, yaitu iuran anggota, donatur yang mengikat ataupun tidak, serta sumber dana lain seperti hasil usaha yang dilakukan oleh organisasi tersebut.

Untuk organisasi semacam LSM iuran anggota tidak banyak terdengar. Pekerjaan yang lebih bertitik-tolak pada isu ketimbang pencarian anggota merupakan alasan keberadaan organisasi ini. Oleh karena itu, jarang terdengar mengenai keanggotaan dan iuran dalam organisasi semacam ini.

Begitupun dengan komponen hasil kegiatan usaha organisasi. Masih dirasakan terlalu berat, bagi sebuah LSM untuk mengelola usaha yang mampu memberikan kontribusi bagi pendanaan keseluruhan organisasi. Nama-nama besar seperti Bina Swadaya, Dian Desa, bisa menjadi contoh dari sedikit organisasi yang secara serius mengelola berbagai usaha dalam upaya memberikan kontribusi bagi gerak organisasi.

Untuk sebagian besar LSM, pendanaan melalui sumbangan donatur menjadi harapan terbesar. Pendanaan macam ini biasanya sangat tergantung pada proyek yang diajukan. Oleh karena itu, tidak melulu salah jika sebutan sebagai kontraktor pelayanan umum acap ditujukan kepada mereka.

Betapa tidak, jika ditinjau dari mekanisme dan cara kerjanya secara garis besar memang tidak banyak berbeda dengan para kontraktor proyek pembangunan gedung sekolah dasar, yaitu mengajukan proposal proyek, disetujui pemberi dana dan proyek berjalan. Tidak menjadi persoalan apabila dikemudian hari gedung sekolah tersebut ambruk lantaran ketidaksesuaian dengan spesifikasi gedung yang ideal.

Lebih menyedihkan lagi berkaitan dengan ketergantungan pada sumber-sumber pendanaan pihak luar, yang sebagian besar beralasal dari para funding luar negeri justru melahirkan tuduhan yang tidak sedap. Masih terngiang jelas tudingan minor bahwa LSM sebagi antek-antek bagi pihak asing yang menjual informasi ke luar negeri. Begitupun tudingan terhadap para aktivis LSM yang dianggap menjual isu-isu kemiskinan, penderitaan rakyat, agar pendonor bermurah hati mengucurkan dananya.

Mansour Fakih tidak menampik adanya pandangan seperti itu. Ia mengatakan bila berpikir dengan kecurigaan maka pandangan bahwa LSM mencari duit akan muncul. Namun, bila berpikir dengan tidak curiga menganggap sebagai sesuatu yang wajar bahwa pada setiap kegiatan, akan selalu ada dukungan dari mereka yang seide dengan kegiatan tersebut.

Selain itu, pimpinan Insist, organisasi yang bergerak dalam pendidikan, penerbitan, dan perlindungan HAM ini, lebih yakin bukan LSM yang mencari dana tetapi isu LSM tersebut mampu memancing pihak lain untuk berkolaborasi dengan memberikan dukungan. Sebagai contoh, pada jaman pemilu lalu, sepanjang kegiatan yang dibuat bertujuan pemilu jujur maka besarnya dana tidak menjadi persoalan. “Organisasi di dunia yang percaya negara akan sejahtera karena pemilu jujur, tanpa melihat lebih jauh mengenai sistem dan struktur, pasti akan membantu,” tuturnya.
***

Persoalan dana memang acapkali menjadi batu sandungan. Bagaikan pedang bermata dua, di satu sisi dana membuat program kerja dapat berjalan. Namun, sisi lain ia juga sanggup membuat mabuk para penggunanya. Tidak heran, berbagai kecaman mengenai pemanfaatan dana ini acapkali menjadi sorotan negatif masyarakat terhadap keberadaan LSM.

Kasus Pemilu 1999 lalu dapat dijadikan contoh, betapa urusan pendanaan menjadi persoalan bagi beberapa LSM. Sebagaimana diketahui, menghadapi pesta demokrasi pertama kalinya di era reformasi itu, tidak kurang dari 15 negara plus uni eropa mengucurkan sumbangan sebanyak 59 juta dollar AS. Dari jumlah sebesar itu, sekitar 17 juta dollar AS (sekitar Rp 119,4 milyar pada kurs Rp 7.000 per dollar AS) dikucurkan kepada LSM lokal untuk membiayai berbagai proyek seperti pemantauan (monitoring) pemilu dan pelatihan bagi para pemilih.

Saat itu, serta-merta beragam proyek usulan kegiatan diajukan bermacam-macam LSM, yang pada akhirnya terpilih sebanyak 30 organisasi yang berhak menjalankan program dengan dana internasional. Tak pelak, bagaikan mendapatkan durian runtuh, dana milyaran rupiah berputar pada organisasi yang sebagian besar berusia dini tersebut. Apa yang terjadi selanjutnya? Gemuruh pemilu memang nyaring terdengar.

Siapapun juga sepakat untuk mengklaim, inilah pemilu paling bergairah yang pernah dialami bangsa ini. Namun sayang, belakangan justru meninggalkan bau tidak sedap. Dalam laporan pertanggungjawaban pemakaian dana bantuan (Juni 2000), misalnya, cacat itu begitu mencolok terlihat. Untuk salah satu LSM yang berkiprah dalam bidang perburuhan, dalam laporan tertera dari sekitar Rp 4,5 milyar (645.633 dollar AS) dana yang diterima untuk program pemantauan pemilu, tidak kurang dari Rp 1,7 milyar (241.496 dollar) tidak jelas pertanggungjawabannya. Demikian pula untuk kegiatan yang sama, salah satu LSM yang mengkhususkan diri pada pemantauan pemilu dari sekitar Rp 24 milyar (3.383.277 dollar) masih menyisakan persoalan pertanggungan dana sebesar Rp 1,2 milyar (180.206 dollar). Betapa memprihatinkan.

Sumber: Klik sini

Organisasi Nonpemerintah di Tengah Gugatan dan Hujatan 29 Oktober 2009

Posted by sr33ircham in Fiksi(kah?).
add a comment

Pengantar Redaksi

DI Puncak, Jawa Barat, pada 31 Oktober sampai 1 November 2002 Harian Umum Kompas menyelenggarakan temu aktivis lembaga swadaya masyarakaat (LSM) dari berbagai kota di Jawa. Pertemuan bertopik “Menggugat Eksistensi dan Peran LSM” itu menghadirkan narasumber Nursyahbani Katjasungkana, Entjeng Sobirin Nadj, Binny Buchori, George Dominggo Rinels Hormat, dan Moeslim Abdurrachman. Pertemuan dimoderatori Agus Sudibyo, Zuhairi Misrawi, dan Ikhsan Malik. Berikut ini empat catatan atas pertemuan tersebut, yang masing-masing dimuat di halaman ini, 28, 29, dan 30.

***

DI luar partai politik, lembaga sosial masyarakat (LSM) atau awal-awalnya disebut organisasi nonpemerintah (ornop) merupakan institusi yang paling sibuk bermanuver sejak hari-hari pertama setelah Soeharto tergusur.

B>small 2small 0< proyek diciptakan dan dikerjakan oleh LSM, dari proyek mengawal transisi demokrasi, reformasi hukum, hak asasi manusia (HAM), pembaruan sistem pemilihan umum (pemilu), pengawasan pemilu dan pendidikan calon pemberi suara dalam pemilu, lembaga pemantau, penanganan konflik sampai program-program karitatif untuk pengungsi maupun kelompok-kelompok dalam masyarakat yang tidak berdaya menghadapi krisis ekonomi. Hampir semua program yang disodorkan LSM, kelas kakap maupun teri, dengan mudah memperoleh dukungan dari lembaga-lembaga donor. LSM-LSM baru bermunculan, meski sebagian masih didominasi oleh wajah lama.

Bulan madu yang dialami LSM itu tampaknya kini berakhir. Bukan karena proyek demokrasi dan HAM telah berhasil, tetapi lebih karena para donor sekarang condong perhatiannya pada megaproyek global perang melawan terorisme.

Seiring dengan paceklik dana yang dialami kalangan LSM, dorongan kebutuhan mempertahankan hidup (survival) di kalangan para aktivis, sejumlah LSM berubah wataknya. Sebagian aktivis LSM yang dulunya dikenal sangat independen dan antikekuasaan kemudian berkompromi dengan kekuasaan dalam urusan dana. Sejumlah aktivis LSM yang kemudian masuk dalam lingkar kekuasaan dan berganti baju politik tidak berperilaku berbeda dengan politisi lainnya. Sejumlah aktivis pembela HAM dan demokrasi terseret dalam lahan basah advokasi untuk para koruptor. Ketika proses transisi menjadi makin tidak jelas arahnya, kekuatan dan pola-pola kekuasaan yang lama mulai efektif kembali. Saat agenda reformasi dilupakan, tudingan pun diarahkan kepada para aktivis dan LSM.

Sebagian kritik, gugatan atau pun hujatan yang ditujukan ke arah LSM sangat merisaukan kalangan LSM karena memang kritik dan caci-maki itu menyentuh ulu hati eksistensi LSM.

Benarkah klaim LSM mewakili rakyat? Masihkah layak disebut LSM ketika program yang ditawarkan kepada rakyat dilakukan dengan mobilisasi, mendikte, dan dengan pendekatan atas-bawah? Apakah LSM bisa tetap menjadi pembela kaum papa dan prorakyat, ketika sebagian besar para aktivisnya bergaya hidup profesional kelas menengah, bahkan sebagian lagi berpenampilan seperti selebritis atau borjuis?

"PASCA-kejatuhan Soeharto, pembusukan LSM memang terjadi. LSM begitu banyak digugat rakyat. Di tengah-tengah kemiskinan dan ketertindasan politik, LSM tidak mampu menghadirkan solusi yang tepat. Akibatnya oleh sebagian orang LSM dianggap parasit," kata George Dominggo Rinels Hormat, aktivis Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI).

Gugatan tidak hanya berasal dari kalangan di luar LSM tetapi bahkan dari kalangan para aktivis sendiri. Otokritik di antara aktivis LSM sering tidak kalah bengisnya. Antara yang muda dan yang tua, antara konglomerat dan pinggiran, antara yang berurusan ternak lele dan advokasi rakyat, antara yang berdasi dan berpakaian lusuh. Sejumlah aktivis LSM bahkan mengkritik LSM lainnya merusak eksistensi LSM karena memotong dan mengingkari komitmen bersama semata-mata untuk memperoleh proyek. LSM kelas kakap sekaliber LP3ES dan Center for Strategic and International Studies (CSIS) menjadi sasaran kekesalan.

CSIS disebut-sebut sebagai LSM pro-modal. Dari segi dana, CSIS memperoleh previlese karena kepemilikan dana abadi yang relatif besar untuk pembiayaan operasional lembaga yang dekat dengan Orde Baru pada masa-masa awal kelahirannya. Darmaningtyas, aktivis LSM yang banyak menaruh perhatian dalam bidang pendidikan, bahkan menuntut CSIS membuat pernyataan maaf kepada publik terhadap kesalahan masa lalu yang pernah diperbuat sebelum berbuat lebih jauh untuk masyarakat.

Nila, aktivis LSM dari Solo (Jawa Tengah), yang melakukan advokasi terhadap proyek restrukturisasi sumber daya air di Indonesia yang dibiayai Bank Dunia mesti menghadapi kenyataan pahit ketika ternyata LP3ES merupakan salah satu anggota kelompok kerja yang menyusun program tersebut.

Azas Tigor Nainggolan, Koordinator Forum Warga Kota Jakarta (Fakta), menggugat LP3ES dan sejumlah LSM lainnya yang melibatkan diri sebagai konsultan dalam proyek Pemerintah DKI Jakarta dalam urusan proyek jaring pengaman sosial (JPS), program pemberdayaan masyarakat kelurahan (PPMK), dan sodetan Sungai Ciliwung. "Desain sudah disepakati, warga sudah oke, tapi justru sejumlah kawan LSM tidak konsisten. Kalau mau membangun rumah bersama, perlu ada daya tahan, jangan sampai etika jatuh pada level asal survive dan hanya bersembunyi di balik dalih tidak ada larangan. Masak gara-gara akan mendapat bagian dari proyek Rp 50 milyar, bersedia merusak desain yang sudah disepakati," kata Tigor.

Entjeng Shobirin, aktivis senior LP3ES, tidak menafikan kritik tersebut. Ia bahkan mengaku di dalam lingkungan internal LP3ES soal-soal tersebut menjadi isu kontroversial. Dalam tubuh institusi LSM yang pernah dikenal dengan ide-ide besarnya, banyak visi dipertarungkan. LP3ES mempunyai banyak wajah. Dalam soal proyek restrukturisasi air yang dibiayai Bank Dunia maupun proyek Sodetan Sungai Ciliwung, Entjeng mengaku termasuk dalam kubu penentang.

"Saya tidak menolak semua kritik itu. Saya tidak khawatir LP3ES akan kehilangan citranya dengan kritik maupun komplain-komplain tersebut," kata Entjeng.

SEPAK-terjang LSM cukup fenomenal dalam 20 tahun terakhir. Muncul sejak era tahun 1970-an pada masa ketika pendekatan pertumbuhan ekonomi sangat diagung-agungkan, LSM muncul dengan pendekatan pembangunan partisipatif yang berseberangan dengan paradigma yang dikembangkan pemerintah. Pada masa itu hanya segelintir LSM yang bergerak dalam upaya menumbuhkan kesadaran kritis masyarakat.

Pada era tahun 1990-an berkembang otokritik bahwa LSM tidak bisa semata-mata berkutat pada pengembangan sosial ekonomi masyarakat, tetapi mesti ikut menggarap soal demokrasi dan isu-isu struktural lainnya.

LSM developmentalis, kata Entjeng, sebenarnya hanya merupakan bagian dari apa yang dilakukan pemerintah. Ia mengaku bahwa pernyataan itu terlalu kasar, karena menjadi bagian atau tidak, sangat tergantung pada integritas LSM bersangkutan. Bisa saja menjadi alat pemerintah tetapi bisa saja ia tetap mandiri dan sebaliknya justru bisa mempengaruhi proses pengambilan keputusan dalam tubuh pemerintah.

Moeslim Abdurrachman menyebutkan, saat ini ada dua kelas LSM yang tumbuh berbeda, yakni LSM yang masih tekun memelihara lele, tetapi juga ada LSM yang mewakili kesadaran kelas menengah kota, seperti Indonesian Corruption Watch (ICW). Ada LSM yang masih mengurus bertanam padi organik atau advokasi dengan gerakan reklaiming. Petani-petani diajak berdemo dan mengambil kembali tanah yang dikuasai perkebunan.

Akan tetapi, menurut Moeslim, persoalan-persoalan yang dihadapi sekarang jauh lebih kompleks, bahkan bukan pula hanya persoalan antara negara dan non-negara. Realitas bahwa LSM sangat heterogen, menurut aktivis Infid, Binny Buchori, ada sejak lahir. Memang ada LSM yang lahir sebagai bagian dari untuk menciptakan pekerjaan pemerintah dengan menawarkan jasa pelayanan pengiriman, ada pula yang menjadi syarat proyek pembangunan, tapi kemudian lahir pula LSM yang menggarap bidang-bidang yang sama sekali baru, seperti masalah kemiskinan kota, korupsi, dan transparansi anggaran.

Perbedaan pendekatan, perebutan lahan, maupun potong-memotong program di kalangan LSM sering berakhir dengan perselisihan yang menjadi personal dan mengesankan fragmentasi yang tajam di kalangan LSM. Sempitnya lapangan kerja, membuat LSM juga jadi sasaran untuk mencari mata pencaharian. Tiba-tiba ratusan LSM bermunculan ketika LSM menjadi prasyarat penyaluran dana proyek dan setelah dirunut ternyata pendiriannya terkait dengan para pembuat keputusan atau eksekutor distrubusi dana tersebut. Maluku tiba-tiba saja menjadi lahan subur dengan ribuan LSM dadakan yang didirikan semata-mata untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan bernilai beberapa juta yang disalurkan oleh LSM asing.

Fenomena tersebut, menurut Entjeng, tidak perlu dibikin pusing. "Itu bersifat sementara. Pada akhirnya seleksi alam akan menentukan apakah sebuah institusi memiliki kredibilitas dan bisa lestari. Apakah LSM bersangkutan benar-benar merupakan ornop atau semata-mata sebagai petualangan. Zaman JPS merupakan masa yang paling fenomenal di mana banyak ornop muncul tiba-tiba untuk mencari duit," ujarnya.

Sejumlah LSM bergerak lebih jauh dengan melibatkan massa rakyat atau bahkan mendirikan organisasi-organisasi rakyat. Wardah Hafidz, misalnya, dinilai cukup berhasil dalam menggalang kesadaran kaum miskin kota melalui Urban Poor Consortium (UPC). Suara Ibu Peduli (SIP) merupakan bentuk lain yang muncul dalam gerakan reformasi. Menurut aktivis Koalisi Perempuan Nursjahbani Kantjasungkawa, SIP berhasil karena menggunakan etika kepedulian sebagai dasar gerakannya. Gerakan itu memperoleh simpati publik bukan hanya karena bergerak dengan sasaran orang-orang yang mengalami penderitaan tetapi juga mencoba mengembangkan keanggotaan.

Dominggo mengingatkan, tanpa perubahan mendasar dalam dirinya, secara pasti LSM bergerak menuju kehancuran. Ia mengkritik konsep dasar LSM yang memandang negara sebagai musuh dan bersikap memisahkan diri dari komunitas politik. Sikap paling radikal yang diambil LSM paling sebatas mengkritik rezim dan ketika kritik itu tidak diterima lantas hanya menggerundel. LSM menolak menggunakan pisau analisa kelas untuk dan ketergantungannya kepada lembaga-lembaga dana membuat mereka menjadi agen kapitalisme dan neoliberalisme. Ketika LSM membentuk organisasi-organisasi rakyat, ia menaklukannya sebagai subordinat LSM. Keterlibatan dalam gerakan-gerakan rakyat justru memoderasi perlawanan rakyat.

TIDAK sedikit memang aktivis LSM yang berubah profesi, keyakinan, dan orientasi politiknya. Aktivis HAM beralih profesi menjadi pembela para jenderal dan sepak terjang para mantan aktivis dalam kekuasaan. Sayangnya mereka tetap dikenal oleh publik sebagai aktivis LSM dan para petualang itu tetap berupaya mempertahankan indentitasnya sebagai aktivis LSM. LSM jadi-jadian maupun LSM partisan yang diciptakan untuk mendukung partai politik, penguasa, atau untuk melawan gerakan rakyat dibuat. Krisis yang dialami LSM sekarang mesti berhadapan dengan pembusukan dari luar. Semua itu bermuara pada tudingan bahwa LSM telah kehilangan jati dirinya, melupakan visi dan misinya.

Menurut Binny Buchori, Sekjen International NGO Forum for Indonesia Development (Infid), tuduhan yang menyebutkan bahwa LSM kehilangan misi dan visinya terlalu mengecilkan keberadaan LSM. Yang terjadi saat ini, menurut dia, bukannya kehilangan visi dan misi tetapi karena ketiadaan platform bersama. Ia mengakui bahwa kerja-kerja LSM masih sangat elitis dan sumber-sumber keuangan sebagian besar masih tergantung dari luar karena kurangnya dukungan publik dalam negeri untuk membantu membiayai kegiatan-kegiatan LSM. Akan tetapi, visi dan misi LSM tetap tegas. LSM lahir dari kesadaran tentang perlunya menjadi penyeimbang sosial dan memperjuangkan nilai-nilai univiersal.

"Nggak tahu yang lain, saya sendiri merasakan kelelahan luar biasa setelah empat tahun bekerja dengan cara seperti ini. Tiap hari ada krisis," tutur Binny.

Kelelahan itu wajar karena agenda transisi yang begitu banyak, kekuatan musuh yang sangat besar, dan kekaburan yang dialami ketika harus menjelaskan siapa musuh bersama saat ini. Lagi pula LSM tidak berdiri dalam ruang kosong. LSM bukan satu-satunya penanggung jawab atas kegagalan yang terjadi.

Absennya kepedulian dan dukungan unsur-unsur civil society lainnya, kaum profesional, asosiasi-asosiasi, maupun ketidakjelasan sikap dan pemihakan media massa berkontribusi terhadap transformasi demokrasi yang berada di ambang kegagalan. (P BAMBANG WISUDO)

Sumber: klik sini

AS Rahasiakan Obat Kanker dari Buah Sirsak 26 Oktober 2009

Posted by sr33ircham in Health.
2 comments

Sebuah penelitian di Purdue University membuktikan bahwa buah sirsak mampu membunuh sel kanker secara efektif, terutama sel kanker prostat, pankreas, dan paru-paru.

Beberapa waktu belakangan di beberapa milis kesehatan dan e-mail pribadi beredar informasi tentang manfaat dan khasiat dari buah sirsak. Isi dari informasi itu cukup membuat kehebohan dan kegembiraan untuk para penderita kanker.

Karena, berdasarkan data yang dilansir, khasiat dan manfaat dari buah yang di Spanyol dikenal dengan nama graviola, atau dengan nama Inggris, soursop ini banyak disembunyikan oleh perusahaan farmasi di AS.

Ya, berdasarkan data dan hasil penelitian, soursop atau sirsak diakui sebagai pembunuh alami sel kanker yang ajaib dengan 10.000 kali lebih kuat dari pada terapi kemo. Lantas, kenapa informasi ini sampai terabaikan dan tidak tersosialisasikan kepada publik?

Ini lebih disebabkan kepada kepentingan bisnis dunia farmasi agar dana riset yang dikeluarkan sangat besar, selama bertahun-tahun, dapat kembali lebih dulu plus keuntungan berlimpah dengan cara membuat pohon graviola sintetis sebagai bahan baku obat, lalu obatnya dijual ke pasar dunia.

Memprihatinkan memang mengingat banyak orang meninggal sia-sia dan mengenaskan, karena keganasan kanker, sedangkan perusahaan raksasa, pembuat obat dengan omzet miliaran dolar menutup rapat-rapat rahasia keajaiban pohon graviola ini.

Beberapa peneliti di Health Sciences Institute mengakui jika buah sirsak memberikan efek anti tumor/kanker yang sangat kuat, dan terbukti secara medis menyembuhkan segala jenis kanker.

Selain menyembuhkan kanker, buah sirsak juga berfungsi sebagai antibakteri, antijamur (fungi), efektif melawan berbagai jenis parasit/cacing, menurunkan tekanan darah tinggi, depresi, stres, dan menormalkan kembali sistem syaraf yang kurang baik.

Penelitian Health Sciences Institute diambil berdasarkan kebiasaan hidup suku Indian yang hidup di hutan Amazon. Beberapa bagian dari pohon ini seperti kulit kayu, akar, daun, daging buah dan bijinya, selama berabad-abad menjadi obat bagi suku Indian. Graviola atau sirsak diyakini mampu menyembuhkan sakit jantung, asma, masalah liver (hati) dan rematik.

Informasi manfaat dan khasiat sirsak tidak serta merta dapat beritahukan karena ada ketentuan undang-undang federal, di mana di dalamnya dinyatakan sumber bahan alami untuk obat dilarang atau tidak bisa dipatenkan sebelum ditemukan unsur sintetisnya.

Sejak 1976, graviola telah terbukti sebagai pembunuh sel kanker yang luar biasa pada uji coba yang dilakukan oleh 20 Laboratorium independen yang berbeda dan dilakukan di bawah pengawasan The National Cancer Institute.

Suatu studi yang dipublikasikan oleh the Journal of Natural Products menyatakan bahwa studi yang dilakukan oleh Catholic University di Korea Selatan, menyebutkan bahwa salah satu unsur kimia yang terkandung di dalam graviola, mampu memilih, membedakan dan membunuh sel kanker usus besar dengan 10.000 kali lebih kuat dibandingkan dengan adriamycin dan terapi kemo!

Penemuan yang paling mencolok dari studi Catholic University ini adalah: graviola bisa menyeleksi memilih dan membunuh hanya sel jahat kanker, sedangkan sel yang sehat tidak tersentuh atau terganggu.

Graviola tidak seperti terapi kemo yang tidak bisa membedakan sel kanker dan sel sehat, maka sel-sel reproduksi (seperti lambung dan rambut) dibunuh habis oleh terapi kemo, sehingga timbul efek negatif rasa mual dan rambut rontok.

Studi di Purdue University membuktikan bahwa daun graviola mampu membunuh sel kanker secara efektif, terutama sel kanker: prostat, pankreas, dan paru-paru.

Hasil riset beberapa universitas itu membuktikan jika pohon ajaib dan buahnya ini bisa:

1. Menyerang sel kanker dengan aman dan efektif secara alami, tanpa rasa mual, berat badan turun, rambut rontok, seperti yang terjadi pada terapi kemo.

2. Melindungi sistim kekebalan tubuh dan mencegah dari infeksi yang mematikan.

3. Energi meningkat dan penampilan fisik membaik.

4. Secara efektif memilih target dan membunuh sel jahat dari 12 tipe kanker yang berbeda, di antaranya kanker usus besar, payudara, prostat, paru-paru, dan pankreas.

5. Daya kerjanya 10.000 kali lebih kuat dalam memperlambat pertumbuhan sel kanker dibandingkan dengan adriamycin dan terapi kemo yang biasa digunakan.

6. Tidak seperti terapi kemo, sari buah ini secara selektif hanya memburu dan membunuh sel-sel jahat dan tidak membahayakan atau membunuh sel-sel sehat.

Kisah lengkap tentang graviola, di mana memperolehnya, dan bagaimana cara memanfaatkannya, dapat dijumpai dalam Beyond Chemotherapy: New Cancer Killers, Safe as Mother’s milk, sebagai bonus terbitan Health Sciences Institute

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2632856

Karena Memilih Al Quran (part 1) 9 Oktober 2009

Posted by sr33ircham in Fiksi(kah?).
add a comment

Sore itu disebuah masjid kampus di sebuah universitas negeri di Jakarta bertemulah dua sahabat karib yang sudah lama tidak berjumpa. Yang seorang bernama Fatimah dan yang seorang lagi bernama Eka. Setelah sekian lama tidak bertemu mereka berdua banyak membicarakan hari-hari selama mereka berpisah. Maklum saja, sejak lulus SMA keduanya berpisah jarak yang cukup jauh. Fatimah kuliah di Turki dan Eka melanjutkan di Universitas Indonesia. Walaupun mereka sering berkomunikasi melalui handphone maupun email, tetap saja pertemuan kedua sahabat itu sangat spesial.
Pertemuan kali ini memang sudah direncanakan oleh keduanya. Perbincangan mereka dimulai dengan bertanya kabar diri dan keluarga. Bagaimana pengalaman kuliah di Universitas masing-masing. Fatimah bercerita bahwa selama di Turki dirinya banyak melihat kebiasaan-kebiasaan orang Turki yang menurutnya unik dari mulai kebiasaan minum teh sampai kebiasaan memberi nama anak-anaknya dengan bahasa sehari-hari. Fatimah bercerita bahwa nama depan teman Turkinya ada yang memiliki arti “berdoa”, “menggambar”, bahkan ada teman sekelasnya yang mempunyai nama depan yang berarti salah satu unsur kimia. Sedangkan Eka bercerita mengenai kesibukannya beraktivitas di kampus mulai dari kegiatan BEM sampai naik gunung. Eka juga bercerita bahwa kehidupan kampus di Indonesia semakin maju dan berkembang, akan tetapi keterbukaan pergaulan antar mahasiswa semakin memprihatinkan, terutama pergaulan muda-mudinya.
“Jadi kapan nih menggenapkan separuh agama?” Tanya Eka tiba-tiba kepada Fatimah. Fatimah yang agak terkejut langsung tersenyum dan menjawab, “Doakan saja, Alhamdulillah aku sedang berproses dengan seseorang. Mungkin kamu malah sudah kenal dengan orang tersebut, dia mahasiswa UI juga kok”.
“Oya, siapakah gerangan pria yang beruntung tersebut?” Tanya Eka sambil mengerlingkan matanya. “Ah, kau ini bisa saja Eka, kamu sendiri bagaimana? Masa sih pria-pria disini pada buta semua sampai-sampai membiarkan gadis seperti dirimu menunggu”. Balas Fatimah tidak mau kalah. “Oke oke, kalau saya terus terang masih belum mau menikah dulu, saya masih ingin sekolah S2 dulu, baru menikah, kecuali ada pangeran berkuda putih yang datang menjemputku hehe, jadi sekarang ceritakan siapa gerangan pria yang berani mengambil sahabatku ini?” “Baiklah, akan aku ceritakan, tapi janji ya untuk tidak bercerita dengan siapapun karena hanya dengan kamulah aku mau bercerita”.
Selanjutnya Fatimah bercerita bahwa dirinya sedang dalam proses ta’aruf dengan seorang mahasiswa UI bernama Rachman Priasmoro. Sesuai dugaan Fatimah, sahabatnya tersebut memang sudah mengatahui siapa Rachman Priasmoro tersebut. Katanya dia adalah anak yang sangat popular di mata gadis-gadis. Selain tampan, ia juga pintar, kaya dan karismatik. Eka mengetahui dirinya dari obrolan-obrolan seputar cewek ketika makan di kantin kampus. Eka sendiri tidak peduli dan hanya sebatas tahu. Dia memang seorang yang agak cuek terhadap makhluk yang bernama pria. Walaupun sudah banyak pria yang mengutarakan cintanya, tetapi dirinya masih bergeming dan masih asyik dengan kegiatannya yang segudang.
“Jadi, sudahkah kamu memutuskan akan menerima lamarannya atau tidak?” Tanya Eka. “Entahlah, aku masih menyelidiki siapa dirinya dan keluarganya. Tetapi yang jelas aku akan memastikan bahwa sesuatu yang aku cari dari diri seorang pria ada padanya. Kalau tidak, saya lebih baik menunggu sampai pria tersebut hadir dalam hidupku.” “Memang apa yang kau cari dari seorang pria? Lihatlah, Rachman itu sudah memiliki segalanya, dia sosok yang sempurna di mata banyak kaum hawa”. Dengan santainya Fatimah menjawab, ”rahasia ya, nanti ngga menarik lagi jika kamu tahu hahaha…”. “Uh dasar kau ini, jangan sampai nyesel lho melepas pria seperti Rachman, nanti bilang aja kalau kamu tidak mau sama dia, buat aku aja hahaha…” jawab Eka sambil tertawa.
Setelah cukup lama berbincang, jam tangan sudah menunjukan waktu sholat ashar. Mereka berduapun segera sholat. Setelah selesai sholat mereka berdua masih berbincang-bincang ringan dan berjanji bahwa mereka akan bertemu lagi setelah wisuda dan menceritakan apa yang harus diceritakan.

to be continued…

(Autis) kah Anda? 9 September 2009

Posted by sr33ircham in Fiksi(kah?).
add a comment

Siang itu aku sibuk membaca buku resep makanan khusus untuk anak autistik. Ya, Anakku memang tidak bisa makan sembarang makanan. Salah-salah… anakku bisa berputar-putar seperti gasing jika ada zat dalam makananya yang tidak cocok untuk dikonsumsi oleh anakku.
Ditangan sebelah kiri, ada buku Food diary anakku… yang aku tulis sejak pertama kali dia kuperkenalkan pada makanan padat… berisi apa saja yang dia cocok untuk tubuhnya,… reaksi alergynya dan mana saja makanan yang tidak cocok dan menyebabkan dia overwhelmed. Kebayang gak?…Di usia 4 bulan misalnya, kuberikan jeruk bayi pada anakku,… Eh, gak lama kemudian dia muntah dan seluruh tubuhnya seperti dipenuhi… ULAT BULU… hiiii…
Pernah aku beri dia tomat. Tapi kemudian, berhari-hari dia diare dan uring-uringan. Kuberi dia susu instant,… anakku malah jingkrak2, Mengepak-ngepakkan tangannya, persis seperti orang gila!!! Dia berputar-putar tanpa merasa lelah,… dan kemudian mengamuk ketika tidak mengerti bagaimana cara mengendalikan tubuhnya yang tidak mau diam.
Ahhh, sudahlah… life must go on anyway. Kulirik sekali lagi food diarynya… hmm, hari ini aku harus mencoba memberinya 5ml putih telur tanpa kuningnya, karena 7 hari yg lalu, dia sudah sedikit kebal ketika kukenalkan pada telur ayam ini. Baru saja hendak memasak, tiba2 kudengar jeritannya…Kucari anakku, tapi tidak kutemukan.
Aku keruang setrika… dan disana kutemukan anakku sedang nangkring diatas lemari, dengan setrika panas yang baru saja dicabut oleh BS-nya karena kupanggil untuk membantuku memasak. Setrika panas ini masih nempel diatas punggung tangan kirinya.!!!
Oh… My… God!!! *panik*
Dari punggung tangannya mengepul asap. Bau daging panggang begitu segar menempel dihidungku. Kuangkat setrika itu dari tangannya… dan, aduh Tuhan, aku tidak kuat melihatnya. Sebagian dagingnya menempel dibalik gosokan panas itu… :( ( :( ( :( (

AAAAAARRRRGGGHHHH…

Sumpah kalau saja ini bukan anakku,… Aku pasti sudah mati berdiri karena ketakutan… Melihat daging dari punggung tangannya, yang menempel pada setrika itu… itu sudah berubah menjadi putih kekuningan… Dan luka di tangannya… juga sudah berubah menjadi putih seperti daging ayam matang :( (
Aku menjerit sekencang-kencangny a… Kupanggil Baby sitternya yang tadi aku suruh untuk membantuku didapur… lalu dengan kesetanan, ku kebut mobilku ke UGD Rumah Sakit, untuk dirawat secara intensif. Begitu anakku segera tertangani… tiba2 aku kehilangan seluruh tenagaku.

AKU PINGSAN!!! * * *
Hari itu, lagi-lagi aku sedang mempersiapkan makanannya. Memang, Khusus untuk makanannya, aku memutuskan untuk memasak sendiri, karena hanya aku yang tahu berapa gram atau mililiter… porsi makanan yang masih bisa ditoleransi oleh tubuh anakku.
Sedang membersihkan kompor yang kecipratan makanan… tiba-tiba, lagi-lagi kudengar bunyi benda jatuh. GEDEBUK!!!…Buru-buru kucari sumber suara itu, memastikan bahwa itu bukan anakku…
Damn. Oh Tuhan… lagi-lagi anakku, dia baru saja terjatuh dan sepertinya kepalanya terantuk pada pinggir tembok, sehingga kepala sobek dan berdarah. Dia masih berusaha berdiri, meskipun sempoyongan…. Dan sambil berjalan, dial menggaruk luka di kepalanya yang bocor… Sementara darahnya terus aja mengucur deras, tepat di belakang otak kecilnya.
Tangannya berlumuran darah… Punggung bajunya pun juga sudah berubah menjadi merah oleh darah. Tapi dia tidak menangis… Dia hanya berjalan sambil menggaruk luka menganga yang ada dibelakang kepalanya. Aku menjeritttt sekuat2nya. Kepalanya kututupi dengan lap kompor yang tadi aku pegang.
Tapi itupun gak lama… karena dalam sekejap, lap kompor itu sudah berubah menjadi merah kehitaman. Aku berteriak panik,… “mbak, minta handuk… handuk…CEPATTTT!!!” Dan lagi2 kukebut mobilku ke rumah sakit, langsung menuju UGD. Disana, dokter yang sudah terbiasa menangani anakku sudah siap menunggu dan segera menjahit kepala anakku.

Dia tidak menangis… hanya minta sesuatu yang bulat untuk dia pegang. Dan setelah dijahit dengan 8 (delapan) jahitan… Hatikupun sedikit lega. Seluruh persendianku serasa dicopot dari tubuhku, dan tanpa sadar…Lagi-lagi aku…PINGSAN..
* * *
Terlalu banyak cerita haru dan berurai airmata yang kami harus jalani. Berkali-kali jantung kami harus terpacu 100x lipat manakala mereka melakukan hal-hal yang tanpa mereka sadari mencelakai diri mereka sendiri.
Tapi ini bukan keluhan kok,… karena saya selalu sadar…. Tuhan itu ARSITEK YANG AGUNG. Karyanya tidak pernah gagal. Tidak satupun makluk yang diciptakannya, yang merupakan produk gagal Jadi ketika dia menciptakan seorang bayi yang memiliki kekurangan, dia tidak pernah lupa untuk menitipkan KELEBIHAN pada anak ini.
So, buat semua orang tua, berhentilah mengeluhkan kekurangan anak kita… mari bantu mereka untuk menemukan kelebihan mareka. Anakku memang Autistik, tapi aku bangga setiap kali menceritakan bahwa anakku autis. Aku bangga setiap kali menceritakan bagaimana proses menangis berdarah-darah itu, sudah Tuhan rubah menjadi Senyum sukacita dan bangga yang luar biasa.
Selalu ada haru yang menyesakkan dadaku, manakala mendengarkan tangan2 mungilnya menari2 dengan lincah diatas tuts2 piano,… mendengarnya bercakap2 dalam bahasa Inggris,… seolah yang kudegar ini adalah anak bule asli… yang nyasar dalam tubuh putriku.

Namun, dibalik itu… Walaupun bangga… selalu tersisa rasa risih dan tidak nyaman, kalau tidak ingin dibilang tersinggung… manakala mendengar orang-orang bercanda dengan menggunakan kata “Autis”. Minggu yang lalu sahabat saya menyelenggarakan pesta ultah disebuah resto terkenal, salah satu teman kami, sibuk dengan BB-nya, sehingga teman yang lain menegur begini… “Tuh,… liat tuh sill… autis banget khan dia…? KAYAK ANAK LOE khan?… Loe marahin deh Sil… marahin Sil… Coba loe terapi dulu nih dia,… biar sembuh kayak anak loe”. Dan semua lalu tertawa terbahak-bahak…
Saya??? hmmm… Cuma bisa senyum kecut, karena tidak ingin merusak suasana Pesta Ulang Tahun sahabat saya… *doh*
Well, saya tahu mereka hanya bercanda, namun biar bagaimanapun,… Saya sudah merasakan dan tahu betul sulitnya membesarkan anak autistik.
Semoga artikel ini semakin mencerahkan teman-teman mengapa orang sepertinya terlalu over campaign dengan gerakan “Stop Using Autism on our daily jokes” ini. Semoga berkenan.

=Written by A mother of an Authistic Child=

Virus Fullhouse 21 Agustus 2009

Posted by sr33ircham in Lain-lain.
add a comment

Hanya ingin menunjukan link mengenai Virus Fullhouse, semoga bermanfaat.

http://www.vaksin.com/2009/0809/fullhouse/fullhouse.htm

Doa dan prasangka 7 Juli 2009

Posted by sr33ircham in Curahan hati....
add a comment

Malam Jum’at di Masjid Rungkut Jaya. Suatu kali.
“Saya pernah berdoa yang tak biasa, Pak,” kata Bu Kus membuka sesi pertanyaan. “Apa itu, Bu Kus?” tanya Pak Suherman Rosyidi, Sang Ustadz. “Suatu kali saya berdoa: Ya Allah, jadikan saya isteri yang selalu terlihat cantik di mata suami.” “Doa yang bagus, dong,” sergah Pak Ustadz, “lalu apa yang terjadi?” “Ya, memang bagus, Pak Herman. Tetapi, esok harinya wajah saya mulai ditumbuhi jerawat yang saya tidak tahu darimana datangnya. Banyak. Beberapa hari kemudian malah memenuhi seluruh wajah. Saya jadi kebingungan. Akhirnya mau tidak mau saya harus menjalani perawatan kecantikan wajah ke sebuah salon kecantikan, suatu hal yang tidak pernah saya lakukan. Saya harus datang ke tempat itu untuk membersihkan jerawat di muka saya. Berkali-kali. Berhari-hari. Hasilnya tentu saja
mengejutkan saya. Wajah saya menjadi lebih bersih dari semula. Lebih cantik.”
“Berarti doa ibu dikabulkan sama Allah. Ya nggak?” “Ya, sih Pak. Tetapi itu belum seberapa, Pak.” “Maksudnya gimana?” Saya juga pernah berdoa yang tak biasa, Pak. Doa yang lain.” “Apa itu?” “Saya berdoa agar Allah menjadikan saya isteri yang setia pada suami.” “Doa yang bagus juga. Lalu apa yang terjadi, Bu?” “Esok harinya, suami saya jatuh sakit. Tak bisa bangun. Ia harus dirawat di rumah sakit. Berhari-hari. Saya mau tak mau harus menungguinya selama terbaring itu. Saya bahkan sampai merasa itu semua seperti ujian bagi saya. Ujian terhadap kesetiaan saya, apakah saya tetap setia pada suami apa tidak. Saya seketika teringat akan doa yang pernah saya panjatkan sebelumnya.”
“Berarti doa ibu dikabulkan sama Allah. Ya nggak?” “Ya, sih, Pak.” “Lalu sekarang, pertanyaannya Ibu apa?” “Bukan pertanyaan, Pak.” “Lalu apa?” “Sekarang ini, saya justru merasa takut untuk berdoa. Gimana ini?”
***
“Apakah Tuhan memberikan apa yang engkau harap dengan mengantarkannya dalam bungkusan yang indah?” Neno Warisman pernah bertanya demikian pada sebuah acara di televisi, mengutip pernyataan seorang pakar yang aku lupa namanya. “Tidak!” lanjut Neno. “Tuhan tidak mengantarkan apa yang engkau minta dalam sebuah bungkusan yang menarik lagi indah. Bahkan Ia mengantarkannya dalam bungkusan yang jelek, ruwet, carut-marut, dan kelihatannya sukar untuk dibuka.
Pertanyaannya adalah: mengapa?”
“Itu tidak lain karena Ia ingin melihat bagaimana engkau membuka bungkusan itu dengan penuh kesabaran, telaten, bersusah-payah lapis demi lapis, sedikit demi sedikit, terus, terus, dan terus. Tak pernah berhenti apalagi berpaling. Hingga pada akhirnya bungkus terakhir terbuka dan engkau mendapatkan sesuatu yang engkau harapkan ada di dalamnya.” Bukankah Allah pasti akan mengabulkan apa yang hamba-Nya pinta? Kuncinya kalau begitu adalah: jangan pernah berhenti memuja. Jangan pernah berhenti berharap.
Allah tidak tidur.
Allah mahamengetahui.
Allah mahamendengar.
Dia maha/rahman/ dan /rahim…

Sungguh tak ada yang sepatutnya kita lakukan kecuali selalu berprasangka baik pada setiap pemberian-Nya. Entah nikmat, entah musibah. Karena musibah pun mungkin hanyalah bungkus belaka; yang selayaknya kita yakini bahwa itu semua hanya karena Ia ingin melihat kita membukanya dengan sepenuh cinta.

Langkah set up modem Sierra 885 17 Juni 2009

Posted by sr33ircham in Fiksi(kah?).
136 comments

1. Pertama-tama pastikin WIFI di Laptop anda TIDAK NYALA untuk pengguna laptop. Untuk pengguna desktop yang menggunakan WIFI, harus anda MATI-kan juga WIFI-nya.
2. Jangan memasang modem terlebih dahulu ke computer.
3. Masukkan CD bawaan modem Sierra 875 / 880 / 881 / 885 ke dalam computer anda.
4. Browse ke folder sesuai dengan Operating Sytem computer anda.
5. Install 3G-watcherGeneric.msi ke computer anda.
6. Ikuti petunjuk peng-installan
7. Setelah install selesai, pasang modem Sierra anda ke computer
8. Biarkan Modem Sierra install driver di computer, TUNGGU sampai selesai/sukses.
9. Jika ditanya “Do you want to install ATT Communication Manager” pilih TIDAK.
10. Nyalakan 3GWatcher
11. Setelah 3Gwatcher mendeteksi modem anda, pilih Tools -> Connections -> Profile
12. Tergantung dari provider internet yang anda gunakan, silahkan HAPUS semua profile yang sudah ada dan buat profile baru sesuai dengan provider anda:
o Indosat Matrix
 Connection Name: Indosat3g
 User: indosat
 Password: indosat
 APN: indosat3g
o Indosat M2 Pasca Bayar
 Connection Name: IndosatM2
 User: *sesuai username anda
 Password: *sesuai password anda
 APN: indosatm2
o Indosat M2 Pra Bayar
 Connection Name: IndosatM2
 User: indosatm2
 Password: prabayar
 APN: indosatm2
o Telkomsel Flash
 Connection Name: Telkomsel
 User:
 Password:
 APN: telkomsel/internet
o Axis
 Connection Name: Axis
 User: axis
 Password: axis
 APN: axis
o Quasar
 Connection Name: Quasar
 User: quasar@mobilequ.xl
 Password: quasar
 APN: mobilequ
o Andalas
 Connection Name: Andalas
 User: andalas@mygprs
 Password: andalas123
 APN: mygprs
13. Jangan ganti setting-settingan yang lain.
14. Klik APPLY
15. Sekarang di pilihan network tinggal KLIK connect dan anda sekarang bisa menggunakan internet dengan modem Sierra anda!

Cegukology (tips menghilangkan cegukan) 25 Mei 2009

Posted by sr33ircham in Fiksi(kah?).
add a comment

Malam itu saya sedang membaca bahan kuliah sembari menonton TV. Karena beberapa saat sebelumnya baru saja makan malam, saya mengalami cegukan (atau dalam bahasa jawa Athob) yang cukup akut. Sudah hampir satu jam cegukan ini tidak hilang-hilang walaupun sudah beberapa cara dicoba, seperti minum air putih, menahan nafas, sampai push up segala.
Tiba-tiba ada SMS masuk dari saudara seiman saya yang iseng mendoakan saudaranya yang sedang kesusahan karena cegukan. (Sebenarnya saudara saya itu tidak tahu bahwa saat itu saya sedang mengalami cegukan yang hebat hahaha). Karena sudah hampir putus asa dan menyerah, iseng-iseng saya menanyakan perihal cegukan kepada saudara saya tersebut karena memang saudara saya ini luas pengetahuannya. Beberapa saat kemudian datanglah SMS balasan yan berbunyi,
“Cegukan?? Tak kasih resep ya…. Ada air putih segelas to di deketmu?? Nah, minum air putih tersebut tanpa bernafas. Jd, waktu minum, tangan kirimu nutup hidung, kayak kalo lagi mbangirin hidung gitu… Tanpa bernafas langsung teguk sampai habis dengan cepat. Kalo km percaya sama saya, coba dilakukan, entar bilang hasilnya gimana… OK??”
Segera setelah mendapat pencerahan tersebut, saya segera mencari segelas air putih untuk diminum. Berhubung tidak ada gelas di sekeliling saya, maka saya menggunakan botol air mineral untuk minum. Setelah mencoba resep yang unik tersebut, saya merasa seperti habis meminum minuman bersoda atau bersendawa sampai beberapa kali. Dan ajaibnya, setelah itu cegukan saya langsung hilang.
Alhamdulillah, ternyata resep tersebut benar-benar manjur dan terbukti. Bagi siapa saja yang mengalami cegukan, silahkan dicoba resep yang oleh Saudara saya tersebut diberi nama Cegukology.
(NB: Nama cegukology itu sudah ada di kamus belum ya, kalo belum berarti ini benar-benar penemuan baru abad ini hahaha ^_^)