Beranda > Fiksi(kah?) > Pagi ini…

Pagi ini…

Pagi ini..

Seperti biasa saya berangkat ngodhe bersama dengan teman saya. Saya berangkat menggunakan angkutan umum berwarna merah yang biasa disebut omprengan dengan nomor  dashboard 47 jurusan Pasar Senen Pondok Kopi.  Sesampainya di tempat kerja, saya dan teman saya membeli bubur ayam untuk sarapan pagi. Sebuah gerobak kecil yang selalu ramai dikerubuti orang-orang yang terbiasa sarapan pada pagi hari.

Selama memesan bubur ayam tersebut, mata saya tertuju pada sepasang suami istri yang sedang berjualan gorengan di seberang jalan. Sang suami sedang membelah sebuah tempe yang akhir-akhir ini menjadi makanan mewah menjadi beberapa bagian untuk digoreng. Disampingnya kulihat sang istri sedang mengupas beberapa pisang yang sudah matang untuk digoreng (juga). Sebentar saya melamun, begitu indah cinta mereka. Begitu yang saya lihat, karena saya mungkin tidak mengetahui hal yang sesungguhnya. Tetapi dalam pandangan saya, mereka begitu damai, begitu akrab, dan begitu bersemangat untuk mengais rezeki. Tidak nampak dalam wajah mereka kekhawatiran ataupun sekedar cerminan keluhan akan kerasnya hidup. Bagiku mereka sangat kuat. Mereka mampu mewujudkan manifestasi cinta yang selama ini kurang bisa saya lihat dari kisah-kisah cinta temen-temen saya. Dalam pandangan saya, cinta mereka begitu suci, mereka berjuang bersama untuk hidup, untuk berkarya, untuk memberi nafkah kepada anak-anak mereka, atau mungkin juga untuk saudara-saudara mereka dikampung. Bagiku mereka seorang pejuang sejati.

Tidak terasa bubur yang saya pesan sudah jadi. Temen saya mengambil dan segera membayar bubur tersebut. Ketika dalam perjalanan menuju tempat kerja, saya bergumam kepada teman saya “bro, mungkinkah saya menemukan cinta seperti cinta mereka (penjual gorengan-red)? Dengan mantap teman saya menjawab “Kenapa tidak, karena cinta sejati hanya akan bertemu dengan cinta sejati dalam pencariannya”…

Kategori:Fiksi(kah?)
  1. 11 April 2008 pukul 03:38

    Klo melihat mereka-mereka jadi malu sendiri. Mereka begitu kuat dalam menjalani hidup. Dalam keadaan begitu mereka masih tetap bisa tersenyum. Sementara diri ini sering berkeluh kesah…
    Selamat belajar menulis, sahabat. Aku juga belajar. Mari kita belajar bersama-sama.
    Peace!!!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: