Beranda > Fiksi(kah?) > Karena Memilih Al Quran (part 1)

Karena Memilih Al Quran (part 1)

Sore itu disebuah masjid kampus di sebuah universitas negeri di Jakarta bertemulah dua sahabat karib yang sudah lama tidak berjumpa. Yang seorang bernama Fatimah dan yang seorang lagi bernama Eka. Setelah sekian lama tidak bertemu mereka berdua banyak membicarakan hari-hari selama mereka berpisah. Maklum saja, sejak lulus SMA keduanya berpisah jarak yang cukup jauh. Fatimah kuliah di Turki dan Eka melanjutkan di Universitas Indonesia. Walaupun mereka sering berkomunikasi melalui handphone maupun email, tetap saja pertemuan kedua sahabat itu sangat spesial.
Pertemuan kali ini memang sudah direncanakan oleh keduanya. Perbincangan mereka dimulai dengan bertanya kabar diri dan keluarga. Bagaimana pengalaman kuliah di Universitas masing-masing. Fatimah bercerita bahwa selama di Turki dirinya banyak melihat kebiasaan-kebiasaan orang Turki yang menurutnya unik dari mulai kebiasaan minum teh sampai kebiasaan memberi nama anak-anaknya dengan bahasa sehari-hari. Fatimah bercerita bahwa nama depan teman Turkinya ada yang memiliki arti “berdoa”, “menggambar”, bahkan ada teman sekelasnya yang mempunyai nama depan yang berarti salah satu unsur kimia. Sedangkan Eka bercerita mengenai kesibukannya beraktivitas di kampus mulai dari kegiatan BEM sampai naik gunung. Eka juga bercerita bahwa kehidupan kampus di Indonesia semakin maju dan berkembang, akan tetapi keterbukaan pergaulan antar mahasiswa semakin memprihatinkan, terutama pergaulan muda-mudinya.
“Jadi kapan nih menggenapkan separuh agama?” Tanya Eka tiba-tiba kepada Fatimah. Fatimah yang agak terkejut langsung tersenyum dan menjawab, “Doakan saja, Alhamdulillah aku sedang berproses dengan seseorang. Mungkin kamu malah sudah kenal dengan orang tersebut, dia mahasiswa UI juga kok”.
“Oya, siapakah gerangan pria yang beruntung tersebut?” Tanya Eka sambil mengerlingkan matanya. “Ah, kau ini bisa saja Eka, kamu sendiri bagaimana? Masa sih pria-pria disini pada buta semua sampai-sampai membiarkan gadis seperti dirimu menunggu”. Balas Fatimah tidak mau kalah. “Oke oke, kalau saya terus terang masih belum mau menikah dulu, saya masih ingin sekolah S2 dulu, baru menikah, kecuali ada pangeran berkuda putih yang datang menjemputku hehe, jadi sekarang ceritakan siapa gerangan pria yang berani mengambil sahabatku ini?” “Baiklah, akan aku ceritakan, tapi janji ya untuk tidak bercerita dengan siapapun karena hanya dengan kamulah aku mau bercerita”.
Selanjutnya Fatimah bercerita bahwa dirinya sedang dalam proses ta’aruf dengan seorang mahasiswa UI bernama Rachman Priasmoro. Sesuai dugaan Fatimah, sahabatnya tersebut memang sudah mengatahui siapa Rachman Priasmoro tersebut. Katanya dia adalah anak yang sangat popular di mata gadis-gadis. Selain tampan, ia juga pintar, kaya dan karismatik. Eka mengetahui dirinya dari obrolan-obrolan seputar cewek ketika makan di kantin kampus. Eka sendiri tidak peduli dan hanya sebatas tahu. Dia memang seorang yang agak cuek terhadap makhluk yang bernama pria. Walaupun sudah banyak pria yang mengutarakan cintanya, tetapi dirinya masih bergeming dan masih asyik dengan kegiatannya yang segudang.
“Jadi, sudahkah kamu memutuskan akan menerima lamarannya atau tidak?” Tanya Eka. “Entahlah, aku masih menyelidiki siapa dirinya dan keluarganya. Tetapi yang jelas aku akan memastikan bahwa sesuatu yang aku cari dari diri seorang pria ada padanya. Kalau tidak, saya lebih baik menunggu sampai pria tersebut hadir dalam hidupku.” “Memang apa yang kau cari dari seorang pria? Lihatlah, Rachman itu sudah memiliki segalanya, dia sosok yang sempurna di mata banyak kaum hawa”. Dengan santainya Fatimah menjawab, ”rahasia ya, nanti ngga menarik lagi jika kamu tahu hahaha…”. “Uh dasar kau ini, jangan sampai nyesel lho melepas pria seperti Rachman, nanti bilang aja kalau kamu tidak mau sama dia, buat aku aja hahaha…” jawab Eka sambil tertawa.
Setelah cukup lama berbincang, jam tangan sudah menunjukan waktu sholat ashar. Mereka berduapun segera sholat. Setelah selesai sholat mereka berdua masih berbincang-bincang ringan dan berjanji bahwa mereka akan bertemu lagi setelah wisuda dan menceritakan apa yang harus diceritakan.

to be continued…

Kategori:Fiksi(kah?)
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: