Beranda > Fiksi(kah?) > Balada seorang polisi…

Balada seorang polisi…

“Dasar Polisi, kerjaannya nyusahin orang saja!”, begitulah sumpah serapah seorang pengendara sepeda motor yang saya peringatkan agar mundur dan tidak melewati garis putih di sebuah lampu merah. Bukan hanya sekali dua kali saya mendapatkan omelan dan umpatan dari orang-orang di jalanan. Seakan sudah menjadi makanan sehari-hari, saya tetap berusaha tersenyum menanggapi hal tersebut. Saya terus saja melaksanakan tugas jaga saya hari itu seperti biasa. Menjaga lalu lintas sambil berpatroli di suatu perempatan merupakan tugas yang sering saya lakukan. Maklum saja, saya hanya seorang polisi rendahan dengan pangkat pas-pasan. Walaupun sudah cukup berumur, saya tetap bersedia untuk ditempatkan di jalanan yang panas dan berdebu. Saya percaya bahwa dimanapun saya bekerja, jika dilandasi dengan hati yang tulus akan memberikan hasil yang maksimal.
Setelah selesai bertugas pada jam 15.00, saya segera berkemas untuk menemui anak dan istri saya di kontrakan. Saya memang belum mempunyai rumah, karena dengan gaji yang pas-pasan saya belum mampu untuk membeli rumah. Perjalanan 35 km lebih saya tempuh dengan memakai sepeda motor pinjaman dari kantor. Sesampainya di kontrakan, saya disambut oleh istri dan anak-anak saya dengan hangat. Begitu menyenangkan bertemu dengan keluarga yang selalu mendukung semua yang saya lakukan. Mereka selalu memberikan semangat dan cinta ketika banyak orang-orang memandang kami dengan sinis hanya karena saya anggota seorang Polisi.
Karena sudah terlalu sering mendengar pandangan dan cemoohan orang mengenai polisi, saya sudah terbiasa dan menganggap omongan tersebut sebagai gurauan. Miris memang, saya ditakdirkan menjadi seorang polisi yang dimata masyarakat instansi tersebut terkenal arogan, korup, dan menyebalkan. Saya tidak bisa menyalahkan masyarakat atas hal itu karena memang sudah dari dulu opini dan pandangan masyarakat terbentuk. Masyarakat bisa berpandangan seperti itu karena selama ini mereka melihat bahwa polisi seringkali berlaku arogan dijalanan, menilang kendaraan dengan sengaja menjebak, atau mencari-cari kesalahan pengendara sepeda motor misalnya.
Kadang terbersit dipikiran betapa menjadi bagian dari korps itu harus siap-siap menanggung beban baik nama baik ataupun nama buruk. Nama baik tentu memberikan kebanggaan tersendiri bagi siapapun. Lain halnya dengan nama buruk yang cenderung merugikan. Stigma buruk yang melekat pada kepolisian membuat semua polisi dicap seperti itu. Tidak peduli dia seorang yang benar-benar baik dan mengabdi kepada Negara atau tidak. Pokoknya setiap polisi adalah seperti itu. Titik. Sangat disayangkan memang, ketika kita bersikap benar malah menjadi sebuah anomali. Saya hanya merasa kasihan kepada mereka-mereka teman polisi yang bersih, jujur dan bertanggungjawab. Saya tahu mereka adalah orang-orang yang sangat jujur, bersih dan tidak pernah melakukan hal-hal yang sering disangkakan kepada polisi. Mereka mungkin sudah terbiasa dengan keadaan ini dan tidak pernah mempermasalahkan. Tetapi justru saya sendiri yang merasa kasihan walaupuan saya sendiri bukan polisi yang bersih-bersih amat. Pernahlah waktu muda dulu saya sedikti arogan, membuat orang repot dijalanan. Tapi semua itu sudah kutinggalkan sekarang. Alhamdulillah, saya ingin mencoba memperbaiki diri. Saya ingin menjalankan peran saya dengan baik, dengan penuh tanggungjawab dan berusaha semaksimal mungkin bermanfaat bagi orang lain.
Saya berharap kedepannya terbina hubungan yang harmonis di antara seluruh rakyat Indonesia. Siapapun dia, apapun agamanya, warna kulitnya maupun pekerjaannya, kita semua tentu menginginkan kemajuan bagi bangsa ini. Salah satu caranya adalah dengan menjalani peran masing-masing dengan maksimal. Seorang tukang sampah ato seorang polisi tidak ada bedanya, dua-duanya merupakan seorang ayah bagi anak-anaknya dan seorang Kakak bagi adik-adiknya. Yang membedakan seseorang dari orang lain adalah moral dan tingkah lakunya. Seorang tukang sampah yang jujur dan bekerja dengan tanggungjawab jauh lebih terhormat daripada para pejabat yang korup dan berperilaku memalukan. Bangsa ini lebih membutuhkan nilai-nilai kejujuran, kesopanan dan keramahan daripada sikap benar sendiri dan menyalahkan orang lain untuk bisa menjadi bangsa yang besar. Wallahu’alam.
Meminjam istilah teman saya, Asa itu masih ada, mari berbuat untuk negeri…

Kategori:Fiksi(kah?)
  1. sedjatee
    7 Desember 2009 pukul 12:54

    hem… perlu diluruskan.. tak semua polisi memposisikan diri sebagai buaya… artinya, masih banyak polisi yang baik, tak seburuk opini kebanyakan orang… saatnya korps polisi membuktikan diri… aku mendukung reformasi di polri… salam sukses…

    sedj
    http://sedjatee.wordpress.com

  2. 14 Desember 2009 pukul 08:35

    @ sedjatee, hanya menyuarakan orang-orang baik yang harus menanggung stigma buruk karena kesatuan tugas. Padahal semuanya kembali kepada tiap-tiap diri. Salam sukses dunia akherat juga pak…:)

  3. 21 Desember 2009 pukul 15:08

    kisah nyata ya mas??? itulah Indonesia, selalu ada generalisir untuk hal2 tertntu. yang sabar ya mas klirong heuheuheu,, kunjungan balik neh🙂
    salam kenal

  4. 22 Desember 2009 pukul 07:43

    @ hadisome, salam kenal juga,,
    kisah nyata? wah berarti sy sudah berhasil menceritakan dengan cukup baik ya hehehe.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: