Beranda > Fiksi(kah?) > Karena Memilih Al Quran (part 2-end)

Karena Memilih Al Quran (part 2-end)

Waktu terus berlalu sampai satu bulan setelah perbincangan mereka di masjid kampus. Kali ini mereka berjanji untuk bertemu di pinggir danau UI. Setelah menunggu sebentar, Eka menyambut sahabatnya tersebut dengan wajah tersenyum riang, namun menyimpan tanda tanya yang besar kepada sahabat terbaiknya itu.
“Imah, ayo ceritakan tentang wisudamu dan sesuatu yang harus kamu ceritakan padaku” Tanya Eka bersemangat. “Iya sabar nduk, mbokya ditanya kabarnya dulu, dah makan apa belum, udah gosok gigi apa belum, kok tiba-tiba nanyain yang serius-serius gitu”, jawab Fatimah dengan manyun. Fatimah kemudian bercerita bahwa dirinya terpaksa menolak lamaran Rachman karena sesuatu hal. Mendengar penuturan sahabatnya tersebut, Eka semakin bertanya-tanya mengapa sampai Fatimah menolak Rachman.
“Tapi tenang aja Ka, Alhamdulillah aku segera menikah dengan seseorang. Kamu ga usah khawatir, kamu boleh ngambil Rachman kok kalau mau hahaha…”. “Serius nih ga nyesel kalo Rachman aku ambil?” Tanya Eka dengan tersenyum meledek. “Iya silahkan aja, sepertinya dia akan cocok dengan dirimu”. “Nih undanganku, kapan kamu buat yang beginian?” Selanjutnya Fatimah mengeluarkan sebuah kertas berwarna hijau daun yang bertuliskan:
Menikah

Fatimah Ananda Lestari
&
Muhammad Ahsanul Iman

“Hanya satu pertanyaaku Mah, kenapa kamu mantap memilih Ahsan daripada Rachman? Apakah dia itu lebih tampan dari Rachman, lebih pinter? Atau…” “Mungkin bukan jodohnya nduk, tetapi aku akan memberitahumu mengapa saya mantap dengan Ahsan. Aku memutuskan untuk memilih a shoulder to cry on ku pada diri Ahsan karena dia memiliki pemahaman agama yang bagus dan memiliki bacaan Al Quran yang bagus”.
“Hmmm baiklah, aku tahu siapa dirimu Imah, dan saya juga ingin memberitahumu bahwa beberapa bulan lagi aku akan menikah, tahukah kamu siapa laki-laki yang akan menjadi suamiku?” “Tidak”, jawab Fatimah. Dengan senyam-senyum Eka menjawab, “Dia adalah Rachman Priasmoro, pangeran berkuda putihku hahaha”.
Mereka berdua saling berpandangan, tersenyum dan berguman, Subhanalloh, Fabiayyi’ala irobbikumaa tukadzibaan.

Kategori:Fiksi(kah?)
  1. sedjatee
    6 Januari 2010 pukul 11:50

    subhanallah… romantic… religious… salam sukses…
    mohon izin memasang taut di blog kami..

    sedj
    http://sedjatee.wordpress.com

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: