Beranda > Fiksi(kah?) > Anjing Sedap Malam

Anjing Sedap Malam

Cerpen Eko Tunas (Suara Merdeka, 18 Juli 2010)
LOLONG anjing terdengar di seluruh kota, bahkan dari jarak meluluh jauh. Membayang moncong-moncongnya mendongak ke kegelapan langit malam. Kekelaman tersaput kepulan asap menghitam dari gedung-gedung tinggi kotak-kotak nyala neon. Bagai bintang-bintang segi empat di antara mega mendung paling gulita. Bau api yang membakar meruap, dan api terus berkobar. “Adakah anjing yang manis, sayangku…?“ Suara di balik teriakan-teriakan parau. Adakah cinta telah berganti rupa, “…dan engkau tetap anjing kecil kesayanganku, manisku… manisku…?“

Lirih suaranya seperti lagu 60-an.

Bahkan anjing pun bisa menjadi lagu.

Juga lagu tentangmu…

Anjing itu hanya mondar-mandir dari kegelapan gerumbul ke pinggir jalan.
Mengibas-ibaskan ekor. Di pinggir jalan menoleh kiri-kanan, seperti ada yang ditunggu. Masuk ke gerumbul gelap dengan suara yang meringik-ringik. Suara serak medok terdengar membisik, “Ssstt… tidak ada apa-apa, Bujel….” Suara seorang perempuan yang seperti kebanyakan berteriak. Mengelus-elus kepala si anjing yang meringkuk di pangkuannya. Mengibas-ibaskan ekor. Nyalang matanya seperti ketakutan.

Di jalan beraspal menggelap sesekali melintas deru panser mirip katak raksasa, dicercahi cahaya neon dari bawah jalan layang. Lampunya menyorot kelengangan jalan lingkar itu. Di kejauhan sana menerang cahaya memerah kobaran api. Sesekali terdengar suara tembakan. Sudah dua hari ini daerah pinggiran itu tersaput suasana mencekam. Hampir-hampir tak ada suara, kecuali ringik anjing dan bisik-bisik. Lalu titik-titik api nyala rokok. Gumam tinggal igau, “Mampir, Mas….”

Hanya sesekali saat kereta api menderu di belakang gerumbul, tampaklah orang-orang di gerumbul itu tersorot lampu lokomotif. Mereka menepi dari rel, dari deru yang menerpakan angin. Mereka hampir semua perempuan, kecuali para waria. Berdandan bagai menyalakan tubuh, berias pupur gincu menjalangkan muka. Aroma pewangi sedap malam merekalah yang sering dikira bau dedemit oleh pengguna jalan pada saat normal. Apalagi pada saat mencekam, mungkin bulu kuduk tentara pun jadi meremang. Tentu tidak, bagi si Bujel yang juga beraroma sama.

“Bujel dulu saya temukan masih sekepal,” kata si induk semang yang selalu membanggakan si anjing jantan berkulit hitam putih. “Waktu itu beras masih murah….”

“Sekarang zaman repot nasi….” sahut perempuan lain.

“Repot nasi?” kikik waria, “lapor mati…!”

“Kemarin-kemarin di sini masih ramai….”

“Sekarang sepi….”

“Sepi?” kikik, “…mati…!”

Ringik.

“Ssstt….”

Ada gubug-gubug karton di antara gerumbul, dan ada suara batuk-batuk lelaki. Dan ia duduk di muka penutup plastik pintu gubugnya.

***

“KAMU masih muda, dan kamu begitu manis….” Tapi kamu begitu tak terurus. Sebenarnya aku mau mengurusmu, tapi bagaimana mungkin di tempat seperti ini. Kecuali kalau kamu mau mengikuti ajakanku, pulang ke desa. Desa terpencil dan rumah kecil. Lihatlah senangnya kamu melucu, seperti yang kau bilang. Rumah, besar atau kecil tetap namanya rumah. Gubug kecil atau gedung tinggi, tetap namanya rumah. Senangnya kalau setiap orang punya pandangan seperti dirimu. Hidup tidak ada persoalan. Terutama kehidupan di desa.

Kita seperti ingin memeluk tubuh mereka.

Setelah mendekap tubuh suami.

Atau tubuhmu….

Tubuh para blandong penebang kayu jati, di daerah pegunungan. Daerah yang sulit karena tanahnya luas berbukit, membuat masyarakat di sana hidup bergotong-royong.

Tubuh para petani di ranah tengah, ranah pertanian. Ranah yang subur makmur, karena bahkan batang ditanam tumbuh. Membuat masyarakatnya suka berpesta, karena setiap panen tiba mereka melakukan kaul selamatan.

Tubuh para nelayan di wilayah pantai, wilayah kelautan. Wilayah para nelayan menarung nasib di tengah laut, antara hidup dan mati. Membuat masyarakatnya peka terhadap perkara kematian.

Ya, kehidupan kami di desa-desa itu tidak ada persoalan. Tapi begitu datang anjing-anjing kota, persoalan pun muncul. Mereka melolong di mana-mana, menguasai setiap jengkal tanah dengan lolong melengking setinggi langit. Berak di mana-mana, meneteskan kenajisan liur. Beranak-pinak. Bayangan moncong-moncong anjing begitu mencemaskan, membuat kami hidup dalam ketakutan. Kami tersisih dan tersingkir, kehilangan tanah atas pemilikan karena penguasaan para anjing kota.

(Birokrasi cukup hingga RT, apakah anjing-anjing itu musti dibasmi?).

“Siapa takut…,” si Bujel seakan mendusin dalam ringiknya.

“Aje gilee…!” celoteh rekan waria.

Lalu tohok perempuan, “Gile luh…”

“Ya, kenapa kita takut…?” decahnya, “karena kita diberi takut, tapi kenapa takut kita tidak kepada yang memberi takut?”

“Ada setaan…!”

“Hi hii, takut luuh…?!”

Sumpahnya, “Anjing, luuh…!!”

Oo, kutukan pada ketakutan. Pada kematian. Kenapa tidak takut kepada hidup dan yang memberi kehidupan?

Lihatlah, kita mengajarkan cara hidup anjing….

Belum lagi cara hidup kenajisan, yang membuat anak-anak kami menirukan bayangan moncong anjing yang melolong. Mencoba meneteskan liur di kota, lalu berak di desa. Menirukan gambar dalam ponsel, tidur dan bergaul-gaul sepanjang hari. Hidup dari perut ke bawah, tanpa kepala. Tanpa hati, menjual segala yang bisa dijual, membeli semua yang bisa dibeli. Mengubah keindahan menjadi kemewahan. “Tak ada anjing semanis engkau,” desahnya di antara celoteh dan kikik tawa. Adakah teknologi bisa menciptakan cinta, “Dan kau tetap anjing manisku, sayangku… sayangku….”

***

OO, aku percaya pada kesetiaanmu. Kesetiaan anjing manis. Bahkan dengan penciumannya tahu, mana laki-laki baik dan mana laki-laki tak punya hati.

Seperti pernah terjadi pada satu malam, si Bujel gelisah saat seorang laki-laki datang untukku. Menggonggong-gonggong, meringik-ringik. Berlarian ke sana kemari. Bahkan mau menggigit kaki si Lelaki. Saat itu aku mengusirnya dengan sumpah serapah. Tapi si Bujel terus menggonggong dan meringik. Siapa sangka di dalam gubug laki-laki itu memperdayaku, memreteli perhiasan tabunganku dan menguras uang makanku.

Berbeda saat kau datang dari arah stasiun kota, dengan jaket lusuh, muka lebam dan tubuh berdarah. Si Bujel meringik-ringik menangisi, menjilati lukamu, mengingus-ingus mukamu. Aku segera memapahmu masuk gubug, membasuh lukamu. Dan aku berjanji mau mengurusmu bagai Bujel. Lihatlah begitu muda dan imut dirimu. Mirip Si Bujel, sayangku… sayangku….

Kau sama sekali bukan para anjing malam penjarah…. Kau lebih mirip anak-anak muda yang menghadapi moncong senjata dengan kata….

“Aku bahkan melihat hatimu yang bercahaya di dadamu….” Pertanda bahkan Bujel bisa melihat yang baik dan yang batil. Ia tidak melolong seperti anjing-anjing lain, yang seolah ikut berpesta atas pembakaran kota. Mungkin bahkan Bujel tahu, siapa tangan yang sengaja menyulutkan api untuk membakar amarah. Lihatlah, dalam rebah nyalang matamu tetap menyalakan api amarah. Meski ada satu titik cahaya, berharap satu kebahagiaan dalam kehidupan sesama esok hari.

Ah, apakah kau mengerti bagaimanakah kebahagiaan. Bahwa: kebahagiaan adalah buah yang dipetik dari pohon tanggung jawab. Selebihnya hanya Tuhan yang tahu setiap yang hidup.

Oo, bagiku tidak ada kebahagiaan, yang ada susah sedikit dan senang sedikit. Hidup yang penting dilakoni, susah dan senang sama saja. Karena hanya itu isi hidup, susah atau senang, yang batasnya bagai kulit ari. Tapi entah kenapa begitu kau datang, aku merasakan seperti melahirkan anak yang belum pernah aku kandung. “Apakah ini yang disebut kebahagiaan…?”

Betapa pun semua ini harus aku katakan.

Kepada semua pecinta hidup.

Juga kepadamu….

Apakah kamu termasuk di antara mereka, yang meneriakkan kemenangan tapi sesungguhnya itu kemenangan paling sunyi. Kalau begitu apa sebenarnya perbedaan kalah dan menang. Kenapa manusia memburu manusia. Sejak Musa, Isa, Muhammad. Hingga engkau, sayangku… sayangku…. Kenapa engkau diburu hanya karena perkara membasuh muka. Sungguh aku tidak mengerti, saat kau berkata bahwa itu semata-mata karena persoalan kekuasaan.

Oo, bagaimanakah wajah kekuasaan yang sebenarnya?

***

KERETA api malam kembali menyorotkan cahaya, menerangi gulita.
Menderu dan menderak. Kemudian gelap kembali menyaput. Panik ringik. Dari kegelapan rel memanjang tampak sosoksosok bergerak semakin mendekat. Api menyembur ke arah gerumbul, membakar gubug-gubug. Gonggong gelisah.
Teriakan-teriakan ketakutan, lari dan lari hanya pilihan oleh perburuan manusia atas manusia. Suara tembakan ke udara berkali-kali. Aku lihat engkau tertatih lari menembus kegelapan. Dalam semburan api, aku lihat engkau tertegak di atas rel bersamaan rentetan tembakan.

Aku tercekat dan hanya bisa menyebut nama Tuhanku….

Aku ingin memelukmu Tuhanku.

Memeluk tubuhku sendiri.

Juga tubuhmu….

Wangi sedap malam bercampur bau mesiu, aroma kematian itu! (*)

Tegal, 6 Juli 2010

Untuk penyair Wiji Tukul, Pahlawan Reformasi.

Kategori:Fiksi(kah?)
  1. 25 Oktober 2011 pukul 18:42

    Teruskan menulismu….siapa tau dikemudian hari tulisan-tulisanmu membawa arti bagi sesama….

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: